Semua yang Datang Harus Kembali

Awal kita bertemu mungkin bukanlah suatu awal yang indah, karena semuanya terjadi secara kebetulan. Dirimu adalah orang yang aku benci pada awalnya, karena kamu menjadi bagian dari hidup orang yang aku benci.

Saat itu aku masih bersama orang lain yang sebetulnya sama sekali aku tidak menaruh hati, tapi aku tahu dia adalah orang baik yang pernah kutemui. Tapi kemudian aku sadar, bahwa aku hanyalah menyakitinya jika terus bersamanya. Akhirnya aku memutuskan meninggalkannya, meskipun pada akhirnya dia menjadikan temanku sendiri sebagai pelariannya. Aku benar-benar marah waktu itu, kenapa harus sahabatku itu yang menjadi pelampiasan kebodohanku.

Setelah itu datang dirimu, mencaci maki aku, mengkasihani aku yang dikhianati sahabat sendiri. Marah, jelas. Tapi waktu itu aku hanya bisa mengumpat dalam hati, dan kau datang untuk minta maaf. Oke, aku bisa terima itu. Toh aku juga sama sekali tidak merasa dikhianati oleh sahabatku itu. Dia adalah orang yang sangat baik menurutku.

Demi waktu, aku tidak pernah menyangka awal caci makimu itu memberi kesan tersendiri. Kamu adalah seorang teman, dari daerah asal yang sama, juga orang yang menyenangkan ternyata. Hari-hari itu menjadikan kita sering bertemu. Entah mengapa muncul perasaan lain dalam hati. Aku ingin mengenalmu lebih dekat.

Aku punya seorang sahabat lagi, dan aku tahu belakangan bahwa dia juga menjadi tempat ceritamu, tentang aku. Aku senang, karena kamu punya perasaan yang sama. Sama-sama ingin lebih dekat. Akhirnya terjadilah tanggal berkesan, 24 Januari 2009, yang aku tak akan pernah bisa lupa tentang itu. Meski saat itu aku hanya berkata, “dijalani saja”, tapi aku tulus dari dalam hati tak main-main denganmu.

Pada awalnya aku sulit mengalahkan egoku, aku memang tak ingin terlalu cinta, jujur. Karena kau tahu itu semua akan menjadi sakit pada akhirnya. Dan aku selalu berkata, “aku percaya takdir”. Hingga akhirnya dirimu menjadi susah percaya terhadapku. Kemudian aku berusaha berubah. Mungkin tak seperti yang kamu inginkan, tapi maaf itu sudah merupakan usahaku dengan caraku sendiri.

Aku ingat, bulan Agustus, sepertinya dirimu mulai percaya terhadapku. Aku sangat berterima kasih sekali untuk itu. Maaf karena selama ini telah membuatmu ragu.

Kamu pernah bilang, bahwa serius denganku, dan ingin mewujudkan keseriusan itu dengan sebuah komitmen. Aku sepakat. Dan akhirnya aku menjadi benar-benar sangat berharap bahwa dirimulah yang menjadi masa depanku.

Bulan Desember 2009, mulailah peristiwa itu. Saat itu kamu memintaku untuk break, agar bisa lebih konsentrasi dengan pelajaran karena kita sudah kelas akhir. Iya, kataku. Namun ternyata aku sangat tidak siap, aku bersikap seperti anak-anak. Khawatir tentang segala hal. Aku sangat takut dirimu meninggalkanku waktu itu. Hingga aku terkena hasutan, dan akhirnya kamu meminta akhir dari hubungan. Terima kasih waktu itu telah memberiku kesempatan untuk masih bisa berhubungan baik. Aku berjanji pada waktu itu, kalau aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, dengan alasan apapun.

Hubungan semakin membaik setelahnya, meskipun bukan berarti ada ikatan lagi antara kamu dan aku. Tapi cukup itu saja aku sudah sangat merasa bersyukur. Aku sadar dengan kesalahanku di waktu itu, aku tidak bisa menuntut banyak dari kamu.

Kemudian kamu datang membawa harapan itu lagi. Kamu bilang kalau kita akan balikan setelah kamu mendapat perguruan tinggi negeri yang kamu inginkan. Iya aku percaya. Meskipun melaluinya sangat tidak mudah. Dengan egoku, aku meminta semua orang agar mengerti seperti apa kondisiku saat itu. Rapuh. Siap hilang kendali jika harapanku itu musnah.

Lima bulan aku masih menunggu. Aku menunggumu, dengan segenap harapan bahwa aku akan beramamu lagi setelah itu. Biarlah jika aku harus menderita terlebih dahulu.

Tapi apa kenyataannya? Dirimu kini berkata bahwa kita tidak bisa kembali. Semuanya jauh dari harapan. Dan kamu bilang bahwa sakit hati yang ditinggalkan mantanmu itu masih berbekas. Sakit. Mungkin itu namanya. Aku tidak tahu bagaimana rasa sakit itu. Tapi yang jelas aku sangat sangat sedih. Bahkan kalau bisa, aku akan menangis meraung-raung. Sayangnya aku hanya bisa menangis tanpa suara, dan tanpa henti.

Aku tak suka jika dibandingkan dengan mantan-mantanmu. Apa aku akan terlihat sama di matamu? Yang akan menyakitimu? Begitukah? Apa kamu lebih memilih menyakitiku daripada kamu yang sakit? Dan teganya kamu memintaku tetap berhubungan baik, setelah semua ini kamu lakukan. Egois.

Yah memang semua yang datang pasti akan kembali, cepat atau lambat. Tapi aku tidak suka jika harus dengan cara begini. Terlalu menyedihkan.

Okelah jika itu yang kamu inginkan. Kita berdua memang sama-sama bebas sekarang. Tapi jangan harap aku akan menerima maafmu. Tidak akan pernah aku dengar lagi semua yang kamu katakan. Maaf jika tak bisa membalas kesempatan yang kamu berikan untukku dulu.

I belive in God, Allah yang Maha Adil. Dia tahu semuanya, maka Dia yang akan membalasmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s