Cukup Sampai Disini, Karena Lagi-lagi Seperti Ini

 Empat belas Februari, orang bilang hari ini hari Valentine, hari kasih sayang. Aku bukannya ingin percaya pada satu hari yang tidak aku mengerti sejarahnya ini. Tapi di hari ini, aku merasa punya moment yang tepat untuk mengakui sesuatu.

Aku sendiri tidak ingat bagaimana caranya hingga kami bisa saling mengenal, hingga tadi malam ia mengingatkanku bahwa dulu aku sering menyapanya ketika sedang berjualan (ya, untuk keperluan dana usaha bagi malam keakraban departmen Elektro). Semalam ia juga bilang bahwa sebenarnya sebelum aku suka menyapanya, dia sering memerhatikanku. Katanya, aku adalah tipe orang yang sangar, suka duduk sendiri dengan tatapan tajam dan angkuh. Yah mungkin memang benar adanya, but I don’t care at all.

Dulu, selalu aku menyapanya dengan riang sewaktu ia lewat didepanku. Sungguh tidak ada maksud apa-apa, bahkan jika ia tidak ingin menjadi teman dekatku pun tak apa, aku hanya merasa bahagia jika menyapanya dengan riang seperti yang kulakukan pada sahabatku yang lain.

Seiring dengan itu kami juga semakin sering bertemu, entah itu di kampus atau di asrama. Aku ingat sekali kalau waktu itu dia suka mengomentari warna baju yang kupakai. Dia bilang, “Tuh kan merah lagi merah lagi, kalau nggak gitu abu-abu”. Awalnya aku tidak peduli, bahkan kupikir dia terlalu ‘penting’ untuk memikirkan warna baju yang kupakai. Tapi aku tidak tahu alasannya mengapa aku jadi senang jika ia meledekiku seperti itu kemudian. Rasanya seperti ia sedang mencari perhatianku dengan berkata demikian. Toh aku juga akan melakukan hal yang sama ketika aku menyukai orang, bertindak menyebalkan hingga dia tidak bisa melupakanku. Namun untuk kasus yang satu ini entahlah aku tidak ingin terlalu jauh berharap.

Aku ingat ketika hendak ujian akhir semester kalkulus. Ia mengajariku beberapa hal yang belum aku mengerti. Ya, memang aku yang memintanya untuk mengajariku karena aku tidak tahu harus meminta siapa lagi untuk mengajariku, tapi mungkin ada juga sedikit perasaan ingin mencari perhatiannya.

Setelah itu kami liburan semester. Tidak ada kemajuan apa-apa tentang hubunganku dan dia. Malah sepertinya dia semakin dekat dengan orang lain yang juga aku mengenalnya. Sedih memang, tapi aku sudah berjanji tidak akan menambah lagi perasaan sukaku padanya, biarlah dia yang mendekati aku jika dia memang menyukaiku. Jika tidak? Mungkin aku akan melupakannya dengan segera. Lagipula aku sebenarnya tidak tega jika harus menodainya dengan kisah masa laluku yang tidak baik, karena aku tahu dia adalah orang yang sangat baik dan jauh dari apa yang pernah kulakukan dulu.

Satu bulan kemudian, kami masuk kembali, dan takdir mempertemukan kami. Aku kini satu kelas fisika dasar dengan dia. Betapa terkejutnya aku waktu pertama kali mengetahuinya, namun segera diliputi rasa bahagia yang amat sangat. Baru kali ini aku bisa merasakan kebahagiaan semenjak putus dengan mantan pacarku setahun yang lalu. Aku jadi berpikir akan melakukan apapun agar aku bisa terus merasakan kebahagiaan ini, dan seolah lupa akan ketidak tegaanku dulu.

Sampai kemarin, aku bertemu dengannya setiap hari. Entah itu tidak sengaja atau memang aku sengaja menunggunya di kantin pada jam delapan malam (karena pada waktu itu lah dia ke kantin untuk makan malam). Jika aku bertemu dengannya pada malam hari, maka kami akan mengobrol panjang hingga pukul sebelas, atau jika aku meminta untuk diajari aljabar linear maka dia akan melakukannya untukku.

Waktu itu aku harap tidak kege-eran dengan menganggapnya bahwa setidaknya ia tertarik padaku, atau minimal ia senang berbicara denganku. Seiring dengan itu aku jadi benar-benar berharap padanya. Padahal dulu aku berjanji untuk tidak berlebihan padanya karena aku tidak mau merasakan sakit lagi. Tapi kini rasanya seperti aku kena kutukan. Oh God, I’m totally fall in love with him.

Mungkin anda akan bertanya alasan lain mengapa aku tidak mau jatuh cinta padanya. Ya, aku memang punya alasan lain selain karena takut rasa sakit. Aku tahu dia orang yang tidak suka pacaran. Meskipun seharusnya aku bisa menerimanya dengan keadaan yang demikian, tapi itu mustahil bagiku setelah mantan pacarku meninggalkanku setelah menggantungkan hubungan kami. Tentu saja aku tidak ingin merasakan hal yang semacam itu untuk kedua kalinya.

Ah biarlah, yang penting kini aku merasa senang jika melihatnya, mendengarnya bercerita, bertukar cerita hari itu dengannya. Aku tidak peduli dengan tidak adanya masa depan jika aku terus bertambah menyayanginya. Aku ingin mencintai dengan ikhlas, seperti yang diceritakan oleh sahabatku beberapa hari yang lalu. Namun sayangnya sesuatu yang berbau ikhlas itu memang sulit.

Tepat hari kemarin, aku menyadari sesuatu bahwa ia sudah mengagumi orang lain. Selama ini aku buta dengan perasaanku, aku pikir dia hanya melihatku saja tapi ternyata aku salah. Kini aku yakin bahwa dia tidak mempunyai perasaan apa-apa padaku, tapi tidak juga berarti ia telah memberiku harapan kosong. Bagaimanapun juga aku sangat bersyukur telah mengenalnya, dia yang bisa membuatku bahagia pada akhirnya. Namun satu doa yang aku panjatkan hari ini, aku ingin berhenti menyukainya sebelum semuanya terasa sakit…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s