Coban Pelangi

Hari selasa, tanggal 6 September 2011. Kami sekeluarga menambah pengalaman wisata ke Malang. Tepatnya Coban Pelangi, daerah Poncokusumo, Kabupaten Malang. Coban sendiri artinya air terjun, akhirnya setelah wisata yang lalu ‘gagal’ ke air terjun, kini terlaksana juga😀

Berangkat dari daerah Sanan, pukul setengah 9 pagi. Menaiki mobil dengan perjalanan ke arah timur. Jalanan waktu itu cukup sepi sehingga perjalanan kami lancar saja. Walaupun selepas daerah Tumpang, kami melalui jalan yang cukup ‘wah’, punggungan bukit yang tipis sekali. Bayangkan saja anda berjalan di atas jalur yang hanya memuat satu mobil dan satu motor, padahal itu adalah lajur dua arah, sedangkan kanan kiri anda adalah jurang…

Sekitar satu jam setelah kami berangkat tadi, akhirnya sampai pula di tempat wisata yang tak jauh dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Apabila anda menempuh jalan lurus maka sampailah anda di TNBTS tersebut. Namun karena ini adalah zona konservasi alam di bawah Perum Perhutani maka dikenakan biaya retribusi sebesar 2000 rupiah, selain itu dikenakan pula retribusi dari pihak warga dengan jumlah yang sama.

Kebetulan kami adalah penghuni, eh pengunjung pertama di tempat ini. Parkir mobil biayanya 3000 rupiah saja, sedangkan harga tiket masuk adalah

Jangan dikira menuju lokasi air terjun adalah hal yang mudah, jalannya saja sekitar 2 km. Namun pemandangan yang disajikan begitu menarik perhatian kita hingga lupa pada lelah yang mendera kaki. Ngarai, jurang, suara air, dan suara burung, begitu pula dengan pepohonan yang membalut, semakin membahana dalam hati yang sedang mencari kedamaian.

Ada fasilitas kuda bagi yang ingin melewati jalan setapak di tepi jurang, tentunya bersama dengan pawangnya, hehe. Bagi yang sudah ahli alias pedagang atau pengurus tempat wisata disana dapat dengan mudahnya menggunakan motor di jalan tanah ini.

Terdapat pula bentangan jembatan bambu yang cukup unik. Hanya dua orang saja katanya yang bisa melalui jembatan ini, karena memang lebar jembatannya tidak seberapa besar. Kamar mandi cukup banyak dan berada di sisi jalan, jangan bayangkan tempat ini adalah murni di tengah hutan lantas tidak ada kamar mandinya, hehe. Beberapa pondok pun disediakan bagi pengunjung yang ingin beristirahat, atau sekalian makan-makan di pondok milik pedagang. Tenang saja, harganya pun tidak mahal, standar untuk harga di tempat wisata. Waktu itu saya membeli pop mie seharga 6000 rupiah dan gorengan masing-masing 500 rupiah.

Sampailah di air terjun, sekitar setengah jam karena kami berjalan santai sekali. Cipratan air yang terus menerus layaknya diterpa air hujan langsung kami rasakan. Namun sayangnya tidak boleh mendekat ke area air terjun, terlalu berbahaya. Perlu diperhatikan pula bahwa lokasi di sekitar sini adalah rawan longsor, banyak papan di pinggir jalan yang memperingatkan tentang hal tersebut.

Jangan langsung kecewa begitu saja, anda masih bisa turun ke sungai di kaki air terjun ini. Apabila hendak menuju kesana, sebaiknya melepas alas kaki karena jalannya berlumpur dan sangat percuma apabila mengenakan sandal (kaki akan tenggelam dalam lumpur, benar-benar tidak ada batu yang bisa dijadikan pijakan). Hati-hati, aliran airnya cukup deras dan batu disana juga besar-besar. Bagi yang ingin arung jeram, tempat ini bukanlah pilihan yang tepat karena sungainya teralu sedikit air.

Segeralah kembali apabila tuun hujan, khawatir longsor akan datang. Sekian info dari saya semoga bermanfaat. Jangan lupa oleh-olehnya apel Malang yang banyak dijual di rest area :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s