Berteman Setelah Putus?

Duck (1982, dalam Aronson, Wilson, & Akert 2007) mengemukakan teori four stage atau empat fase berakhirnya sebuah hubungan. Fase dimulai dari fase intrapersonal─individu memikirkan perasaan tidak puas dengan hubungannya. Kemudian berlanjut ke fase dyadic─individu membahas keinginan putus dengan pasangannya. Fase ketiga adalah fase social─mengumumkan status putus kepada orang lain seperti teman dan keluarga. Fase terakhir adalah fase intrapersonal─individu memulihkan diri dari putus dan membuat versi bagaimana dan mengapa hubungannya berakhir.

Lalu apakah orang masih ingin tetap berteman setelah putus? Ternyata hal tersebut tergantung peran atau posisi─menjadi orang yang memustuskan (breakers) atau yang diputuskan (breakees) dan gender. Akert (1998, dalam Aronson, Wilson, & Akert, 2007) menemukan bahwa lelaki tidak tertarik tetap berteman dengan mantan pacarnya, tidak peduli dia di posisi breakers atau breakees. Sementara perempuan cenderung ingin tetap menjadi teman, terutama ketika mereka di posisi breakees. Lelaki cenderung ingin memutus hubungan dengan mantannya dan melangkah ke depan. Sementara, perempuan menginginkan melanjutkan koneksi perasaan yang pernah terjalin dengan mantan pacar mereka, berharap mereka dapat mengubah intimate relationshipplatonic friendship. Jadi, jika mantan pacar anda (lelaki) tidak ingin berhubungan dengan anda setelah putus, maka anda jangan heran. Sementara. jika mantan pacar anda (perempuan) menginginkan anda dan dia tetap berhubungan setelah putus itu merupakan hal yang wajar.

 

(maaf, lupa sumbernya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s